“PEMBANTAIAN UMAT ROHINGYA DI MYANMAR, MELIRIK KEMBALI” Bersama Ust. Ahmad Nasir (Chit Qo Qo)

DSC_0081_resizeInnamal mukminuuna ikhwah, “sesungguhnya setiap mukmin adalah bersaudara “. Dan Allah tidak akan memberikan pertolongan kepada mereka yang enggan dan tidak memiliki kepeduliaan untuk saudaranya. Setiap muslim dari seluruh dunia tentu harus peduli. Antara muslim yang satu dengan yang lainnya bersaudara. Mereka diikat dengan tali aqidah. Maka jika ada saudara seiman yang merasakan penderitaan, yang lain tentunya juga ikut merasakan penderitaan. Panitia Ramadhan dan Insani UNDIP, sebagai bagian dari kaum muslimin dari seluruh dunia tentu juga merasakan penderitaan yang dialami muslim Rohingya. Dalam rangka mempersatukan serta berupaya menyentuh hati umat muslim, INSANI UNDIP dan Panitia Ramadhan menyelenggarakan sebuah kajian diskusi membahas kondisi penderitaan Etnis Rohingya pada hari  Sabtu, 27 Juli 2013 di Masjid Kampus UNDIP. Selain menyampaikan kondisi saudara kita di Myanmar, kegiatan ini bertujuan juga dalam rangka penggalangan dana sebagai dukungan material warga Indonesia yang nantinya akan langsung tersalurkan pada warga Rohingya melalui ACT (Aksi Cepat Tanggap). ACT merupakan Lembaga kemanusiaan di Indonesia, yang menyerukan dunia internasional dan dunia Islam untuk lebih memberikan perhatian dan bantuan kepada Muslim Rohingnya yang mengalami penindasan militer dari negaranya. Sejak tahun 2009 ACT telah berhasil membantu serta berusaha meringankan beban hidup mereka dengan menyalurkan berbagai bantuan, seperti bantuan pangan, bantuan sandang, layanan medis, serta trauma healing. Akhir bulan Juli 2013 ACT telah mendirikan bangunan sejumlah 300 rumah layak huni bangun, dan memberikan bantuan berupa sandang pangan dan layanan medis kepada  10.000 warga Rohingya.

Pada kegiatan ini dengan sengaja INSANI beserta Pantia Ramadhan Masjid  Kampus UNDIP menghadirkan secara langsung Aktifis Kemanusiaan Rohingya  yaitu Chik Qo Qo atau yang akrab dikenal dengan Muhammad Nasir sebagai pembicara untuk mengupas kondisi saudara kita di Myanmar. Acara ini dihadiri oleh seluruh jamaah sholat Isya dan tarawih baik remaja, dewasa maupun orang tua. Oleh karena itu, untuk mempermudah komunikasi, Kegaiatan ini dimoderatori oleh Mas Rifka, mahasiswa FIB Undip jurusan sastra Inggris sebagai translator, agar semua kalangan mampu mengerti dan memahami apa yang disampaikan oleh pembicara. Kajian dimulai selepas sholat witir yakni pada pukul 20.15 hingga pukul 22.00 WIB.

Sebelum pembicara menyampaikan materi, ditayangkan pula cuplikan Berita oleh Metro TV yang menceritakan kondisi pengungsian etnis Rohingya yang kian memprihatinkan. Rohingya adalah sebuah suku minoritas di daerah Rakhine, di negara Myanmar atau Birma. Di Rakhine, dan di seluruh daerah Birma, mayoritas penduduknya adalah penganut agama Budha. Sementara, Rohingya adalah suku yang menganut Islam sebagai agama mereka. Diperkirakan ada 800.000 orang Rohingya yang tinggal di daerah Rakhine. Puncak konflik terjadi pada bulan Juni 2012. Pada siaran tersebut diberitakan bahwa warga Rohingya tinggal dalam wilayah yang terisolir (atau mungkin sengaja diisolasi dari dunia luar), mereka tidak mendapatkan hak-haknya sebagai warga negara yang sah. Sebanyak 100 jiwa meninggal dunia dalam penganiayaan dan 500 jiwa mengalami cedera. Pada Master Plan 1992 kaum Budha menginginkan mengurangi jumlah populasi umat Muslim dengan mengurangi pula tingkat kesejahteraan mereka yakni dengan perampasan tanah beserta perkebunan. Dengan harapan mampu menggantikan posisi Arakan Islam dengan Budha.

Pada awal pembukaan diskusi oleh Mohammad Nasir beliau menegaskan bahwasanya “Kita ini saudara, walau dengan suku yang berbeda, Negara yang berbeda, namun kita adalah adalah saudara seiman”. Pada acara tersebut beliau memaparkan kondisi Rohingya yang meliputi sikap polisi yang tidak melakukan tindakan apapun melihat etnis Rohingya ditindas.  Etnis Budha sudah berulang kali membakar pemukiman warga, masjid-masjid serta melakukan pembunuhan serta membakar rumah muslim dimana rumah tersebut merupakan tempat bisnis sebagai awal mula pusat ekonomi kaum muslim di Myanmar. Secara otomatis, pusat perekonomian mati total. Berdasarkan analisis beliau, terdapat indikasi adanya pihak provokator di belakang kaum Budha dalam penyerangan umat muslim di Myanmar. Beliau menegaskan Konflik di Myanmar bukan hanya konflik suku yakni dengan analisis “Mengapa pada saat terjadinya konflik pemerintah hanya terdiam melihat kondisi tersebut?”.

Di tengah diskusi panjang, Mohammad Nasir menyebarkan beberapa surat yang ditulis oleh warga Rohingya. Surat tersebut menceritakan terntang penderitaan mereka dan permohonan tolong untuk tetap terus mendukung mereka dari segi materi, maupun dukungan tekanan pada pemerintah agar penderitaan segera berakhir dan permohonan doa untuk keselamatan meraka.  Di sela-sela diskusi, Beliau pun mengutarakan rasa terima kasihnya kepada Indonesia  yang telah memberikan banyak donator .  Melalui ACT ini, dana bantuan akan lebih cpeat tersalurkan. Namun disisi lain Mohammad Nasir merasakan keheranan dengan warga Indonesia yang gemar merokok. Menurut beliau, merokok adalah mendonasikan harta ke tempat yang tidak benar. Bahkan Islam sendiri pun tidak membenarkan istilah merokok. “NO SMOKING” begitu tutur beliau dengan bahasa Inggris nya.

Di akhir diskusi, salah seorang dari jamaah yang bernama Wahyu Ari dari FKM UNDIP menanyakan, “Kenapa orang Rohingya tidak perang saja?. Melihat kondisi penindasan seperti ini”. Mohammad Nasir menjawab dengan 3 alasan. Yang pertama yaitu warga Rohinya belum memiliki wawasan Al Quran yang luas. Alasan yang kedua yaitu mereka memang kurang bisa bersikap tegas mengambil keputusan, dan yang terakhir adalah memang pemerintahan disana ketat. Di ujung diskusi beliau memberikan kesimpulan bahwa “Apa yang akan kita lakukan dan apa yang kita perbuat, yakni dengan menekan Pemerintah agar penderitaan kam Rohingya segera berakhir, dan berikan dukungan sebaik-baiknya untuk saudara kita tersebut.  Karena sesungguhnya Innamal mukminuuna ikhwah, “sesungguhnya setiap mukmin adalah bersaudara “.

Oleh : Arifah Az Zahra ( BPMAIU INSANI )

Bagikan Artikel Ini :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *