Kesatuan 4 Pilar Dalam Kehidupan Islami (Four in One)

Kajian BAI 2

KAJIAN – Suasana kajian BAI di Kementrian Hukum dan HAM Kantor Wilayah Jawa Tengah (16/4)

Untuk yang kedua kalinya, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) INSANI sebagai rohis induk di Undip kembali menghadiri undangan kajian yang diadakan oleh Badan Amalan Islam (BAI) Semarang.

Setelah pada kesempatan pertama Maret lalu bertempat di Dinas Kehutanan, pada kajian kedua yang dilaksanakan Rabu, 16 April 2014 kali ini bertempat di Kementrian Hukum dan HAM Kantor Wilayah Jawa Tengah di Jl. DR. Cipto Semarang.

Kajian ini diisi oleh Prof. Dr. Suparman Syukur, MA dengan tema materi “Kesatuan Empat Pilar Dalam Kehidupan Islami (Four in One).”

Dalam materinya, beliau menyampaikan ayat Al-Qur’an surat Al-Ghasyiyah ayat 17-20, yang artinya:

 “Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan? Dan langit bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? Dan Bumi bagaimana ia dihamparkan?.”

Memperhatikan pesan Allah dalam surat tersebut, maka khusus bagi manusia, misi kehidupannya adalah melakukan  pengamatan terhadap segala sisi kehidupan alam sebagai ayat kauniyyah untuk menghasilkan sesuatu yang bisa sebanyak mungkin bermanfaat bagi dirinya dan bagi orang lain (khoironnasi anfa’uhum linnasi)

Tentu, untuk mencapai itu semua, setidaknya ada 4 pilar yang tergabung dalam bingkai kesatuan (four in one):

Yang pertama adalah tafakkur (berpikir). Setiap manusia dikaruniai akal untuk memikirkan segala sesuatu, terutama hal-hal yang terkait dengan dinamika kehidupan

Yang kedua Tadabbur atau memahami. Istilah ini merupakan rentetan kedua setelah manusia mau berpikir, hasil dari pemikiran manusia kemudian dicerna, dipahami, dimengerti, kemudian menjadi suatu kesadaran, bahwa manusia adalah mahluk social yang harus selalu memperhatikan fenomena yang ada di alam semesta ini.

Setelah itu, yang ketiga adalah Tadzakkur atau mengingat kembali siapa yang telah menciptakan alam semesta ini melalui tanda-tanda yang telah ia pahami. Dengan demikian, melalui sikap kesadaran kerohanian terhadap Tuhannya, manusia akan meletakkan posisi hakikatnya sebagai mahluk Allah.

Kemudian pilar yang terakhir adalah Ta’abbud atau bagaimana manusia mau mengakui dirinya sebagai “hamba” untuk selalu menghambakan diri kepada-Nya. Sebagaimana dalam firman Allah QS. Adz-Dzariyat ayat 56:

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.”

Oleh karena itu, manusia harus mampu menyatakan ikrarnya yang dinyatakan melaui kalimat syahadat dan membuktikannya dengan amalan & ibadah dalam kesehariannya.

Bagikan Artikel Ini :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *